Tiada Penghalang Untuk Melihat Allah swt

Tiada Penghalang Untuk Melihat Allah swt

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟، قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم :هَلْ تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ، وَالْقَمَرِ، إِذَا كَانَتْ صَحْوًا؟، قُلْنَا: لَا، قَالَ صلى الله عليه وسلم: فَإِنَّكُمْ لَا تُضَارُونَ، فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ، يَوْمَئِذٍ، إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَتِهِمَ.

(صحيح البخاري)
Dari Abi Sa’id Al Khudriy :Kami berkata : Wahai Rasulullah, apakah kami melihat Tuhan Pencipta Kami dihari kiamat?, sabda Rasulullah saw : “Apakah kalian terhalangi dari melihat matahari dan bulan jika sedang tiada awan dan penghalang?”, kami berkata tidak, sabda Rasulullah saw : maka sungguk kalian tiada akan terhalangi untuk melihat tuhan kalian hari itu, kecuali jika kalian merasa terhalangi dari melihat bulan dan matahari ketika sedang tiada yg menghalanginya (mustahil, dan menguatkan bahwa Allah swt akan terlihat dg jelas) (Shahih Bukhari)
ImageLimpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Kekal dan abadi, kita bersalawat dan bersalam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kelurga, para sahabatnya dan para pengikutnya, mulai hari ini hingga hari perjumpaan. Kita memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah memilih kita dan memuliakan kita di malam hari ini untuk masuk ke rumah-Nya (masjid) dan menghadiri majelis nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal ini adalah suatu kenikmatan dari Allah untuk kita semua. Allah menghadirkan kita di malam hari ini untuk memberi anugerah kepada kita, karena Allah tidaklah memberi kemudahan kepada kita dalam melakukan sesuatu kecuali Allah hendak memberikan kepada kita balasan pahala. Dan tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu begitu saja (sia-sia), maka segala ciptaan Allah dan segala perbuatan makhluk-Nya adalah dalam lingkupan hikmah atau dalam lingkupan rahmah. Segala perbuatan yang disyariatkan oleh Allah adalah bentuk dari rahmah Allah, dan Allah membalas mereka yang melakukannya dengan balasan pahala dan surga. Adapan sesuatu yang menyalahi syariat dan perintah Allah maka hal itu terdapat hikmah dan jauh dari rahmah, dan Allah akan membalas perbuatan mereka dengan siksaan. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dari perbuatan baik atau buruk, keimanan atau kekufuran, dan kemaksiatan atau kerugian, kesemua itu adalah ciptaan Allah yang tidaklah sia-sia (remeh) melainkan berada dalam koridor rahmah atau dalam koridor hikmah, semoga Allah menjadikan kita selalu berada dalam lingkupan rahmah.
Dan majelis-majelis dzikir dan shalawat atas nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lingkupan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Allah menambhakan rahmat untuk hamba-hamba-Nya yang selalu mendekat kepada tempat-tempat dan majelis yang dipenuhi rahmah. Dan setiap rahmat yang dilimpahkan oleh Allah adalah pecahan dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan penundaan siksa untuk orang kafir juga merupakan rahmah, rahmah yang disebabkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

( الأنفال:33 )
” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” ( QS. Anfal: 33)

Istighfar merupakan syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan selama kita beristighfar memohon ampunan kepada Allah maka tidak akan ada siksa untuk kita, insyaallah. Dan selama ummat beristighfar maka niscaya tidak akan ada siksaan yang turun dari Allah untuk mereka. Kita memohon kepada Allah semoga kita dilimpahi rahmat di majelis malam hari ini dan senantiasa melimpahkan rhamat kepada kita tiada hentinya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika kita memasuki masjid berdoalah kepada Allah agar dibukakan untuk kita pintu-pintu rahmah”. Maka majelis-majelis dzikir dan maulid yang diadakan di dalam masjid merupakan rahmat diatas rahamat, dan limpahan rahmat yang turun karena dzkir, dan juga rahmat para malaikat yang hadir di majelis-majelis dzikir, maka seorang mukmin akan selalu dilimpahi rahmat hingga Allah menyatukannya dengan nabi yang penuh rahmat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika Allah telah mengikatmu dengan nabi yang penuh rahmat dalam kehidupanmu maka engkau akan mendapatkan kebahagian dan ketenangan. Diantara tanda bahwa engkau telah terikat dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ketika engkau akan masuk ke dalam rumahmu maka engkau akan teringat apa yang diucapakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memasuki rumah, dan ketika engkau memasuki pasar maka kau teringat tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa yang diucapkan beliau saat memasuki pasar, ketika engkau sedang menghadapi makanan dan engkau teringat akan tuntunan Rasulullah apa yang diucapkan ketika akan makan, maka sungguh engkau telah terikat dengan nabi yang penuh rahmah. Dan ketika engkau akan tidur kemudian engkau teringat apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana cara tidur beliau serta apa yang diucapkan ketika akan tidur,maka sungguh engkau akan selalu dalam rahmat Allah dan selalu terikat dengan nabi yang penuh rahmat, dan engkau akan melihat dampak dari rahmat ini ketika engkau wafat dimana merupakan jalan untuk menuju kenikmatan yang kekal di surga, dan kenikmatan yang paling mulia di surga adalah memandang dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana hadits agung yang kita baca tadi, namun pembuka rahmat yang kekal adalah kematian. Jika engkau memperbanyak mencari rahmah di dunia maka ia akan datang sebagai penolongmu ketika engkau wafat. Darimana dan bagaimana rahmah itu datang?! Yaitu dengan mengukuti tuntunan dan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka sebagian ulama besar mengatakan bahwa ada 2 orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bersepakat untuk saling membantu di dunia dalam mencapai ridha Allah, dan untuk menyebarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, dan menampakkan akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama mereka dalam kehidupan dunia. Maka kedua orang shalih ini setuju untuk mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad dan menyebarkan ajaran beliau hingga mereka wafat, dan mereka berkesinambungan dalam hal itu, mereka saling membantu dalam menyebarkan dakwah nabi Muhammad, mereka mengajarkan sunnah-sunnah nabi Muhammad kepada manusia dengan kasih kelembutan dan kasih sayang dan akhlak yang mulia, dan mereka terus mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana hal itu adalah sunnah-sunnah yang sangat sederhana dan kita semua mengetahuinya, diantaranya sunnah ketika makan, ketika tidur, ketika keluar dan masuk rumah. Kita menganggapnya sesuatu yang kecil padahal hal itu sangat agung di sisi Allah. Dan setelah beberapa tahun kedua orang ini mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang diantara mereka meninggal. Maka orang ini selalu mendoakan temannya yang meninggal, dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Dan suatu saat ia berjumpa dengan temannya di dalam mimpi, dan ia menanyakan keadaannya setelah meninggal, dan apa yang terjadi setelah ia wafat. Kita mengetahui bahwa mimpi-mimpi baik itu adalah benar dan datangnya dari Allah,dan sebagian mimpi yang lainnya adalah dari syaitan. Lihatlah pada indahnya tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berkatalah saudaranya yang meninggal itu: ” Ketika aku wafat dan berpindah dari kehidupan dunia ini, sungguh aku tidak merasakan kematian sama sekali, orang-orang memandikanku, mengkafaniku, dan membawaku ke dalam kubur, tetapi aku mengira diriku dalam mimpi, sehingga datang 2 malaikat ke dalam kuburku, dan berkata kepadaku : “duduklah wahai Abdullah”, dan ketika aku duduk di kuburku aku merasa bahwa diriku baru bangun dari tidur, dan dahulu ketika aku masih hidup di dunia aku selalu menjaga 2 sunnah nabi yaitu ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, yang pertama adalah sunnah siwak, ketika aku bangun tidur aku selalu mengambil siwak dan bersiwak dengannya, dan yang kedua adalah ketika aku bangun tidur aku selalu membaca doa:

الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور

” Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali, dan kepada-Nya lah kami akan kembali”.
Adapun balasan dari sunnah yang pertama aku tidak merasakan sakitnya kematian bahkan aku mengira bahwa aku sedang dalam mimpi, sehingga malaikat berkata kepadaku: “duduklah wahai Abdullah” mereka ingin menanyakan aku di dalam kubur, dan ketika aku bangun dari kuburku aku mengira bahwa aku bangun dari tidur, dan aku mulai mencari siwak dan aku mengulang-ulang doa bangun tidur, dan ketika itu aku memanggil anakku dan aku berkata: “wahai fulan, dimana siwakku, siapa yang yang telah mengambil siwak?”, maka malaikat yang berada di hadapanku berkata: “Wahai Abdullah, siwak apa yang engkau cari dan siapa yang orang yang engkau panggil itu?, apakah engkau mengira bahwa engkau sedang tidur di tempat tidurmu?, engkau sekarang adalah mayyit di dalam kuburmu, dan kami adalah malaikat yang akan bertanya kepadamu”, maka aku menjadi risau dan aku sadar bahwa aku telah berada di alam kubur, dan aku pun mengulang-ulang doa bangun tidur, maka malaikat itu berkata: “engkau adalah hamba yang shalih, engkau telah dikuatkan dengan ucapan yang kuat, maka tiada lagi pertanyaan untukmu di kubur dan di hari kiamat, maka tidurlah seperti tidurnya pengantin sampai tiba hari kiamat”. Maka ia berkata kepada temannya di dalam mimpi, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyelamatkanku dari pedihnya kematian, dan dari pertanyaan 2 malaikat di alam kubur dikarenakan aku mengamlakan dua sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat mudah dan sederhana itu. Maka bagaimana jika kita mengamalkan 5 dari sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bagaimana jika kita menjaga 10 sunnah dari sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap sunnah Rasulullah yang engkau amalkan akan membawa manfaat untukmu, dan orang ini telah melewati 1 tahap yaitu selamat di alam kuburnya, ia akan selamat dari kubur kemudian mencapai ke surga, dan dari surga ia akan mencapai kepada puncak kenikmatan di surga yaitu memandang keindahan dzat Allah subhanahu wata’ala. Demikianlah Allah subhanahu wata’ala memberi balasan kepada orang-orang yang beriman di dunia, karena mereka beriman kepada Allah subhanahu wata’ala walaupun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka menyembah-Nya padahal mereka tidak melihat-Nya, dan mereka melakukan shalat karena Allah subhanahu wata’ala sedangkan mereka tidak melihat-Nya. Jika mereka telah sampai kepada ketetapan rahmat Allah, maka mereka akan melihat Allah subhanahu wata’ala, dan Allah akan menyingkirkan dari mereka tabir yang menghalangi mereka dengan Allah.
Sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak bisa disifati dengan tempat, langit-langit dan bumi ini dahulu tiada, bintang-bintang, bulan dan matahari asal mulanya tiada, dan segala unsur oksigen dan lain-lainya dahulu tiada. Dahulu tidak ada tempat atau masa, karena perhitungan zaman diketahui dengan putaran matahari dan bumi, maka bagaimana mungkin ada zaman sebelum ada matahari. Allah ada sebelum ada atas dan bawah, dan sebelum diciptakan alam semesta, langit dan bumi ini, maka bagaimana diketahui arah atas dan bawah, oleh karena itu kelak di hari kiamat hamba akan melihat Allah tanpa terikat lagi dengan tempat, mereka melihat Allah subhanahu wata’ala sebagaimana hari mulia di hari Jum’at ketika di dunia, sebagaimana riwayat sahabat Abi Sa’id Al Khudri RA, beliau adalah seorang sahabat yang selalu mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencintainya. Beliau sering keluar ke pedesaan dengan membawa kambing-kambingnya dan menggembalanya di pedesaan itu, dia sangat mencintai kambing dan tempat penggembalaannya itu. Maka suatu saat Rasulullah berkata kepada Abu Sa’ad Al Khudri: ” wahai Aba Sa’id, aku melihat engkau sangat menyayangi kambing dan perkampunganmu”, maka ia berkata: “betul wahai Rasulullah “, kita lihat apa yang diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengikat cinta dengan agama, beliau berkata kepada Aba Sa’id : “jika engkau sedang menggembala kambingmu, dan disaat itu telah masuk waktu shalat, maka janganlah kamu langsung melaksanakan shalat, tetapi adzan dan iqamahlah kemudian lakukan shalat”, kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutmaan adzan yang demikian luhur, Rasulullah berkata: “tiadalah sesuatu dari bebatuan, benda yang mati dan yang yang kering atau basah, dan lainnya yang mendengar suara adzan dikumandangkan kecuali akan menjadi saksi bagimu dengan keimanan” . Maka jika engkau melakukan shalat di rumah mu atau di kamarmu maka adzanlah karena segala sesuatu yang ada disekitarmu akan menjadi saksi bagimu dengan keimanan. Demikian keadaan Rasulullah saat duduk bersama para sahabat, terkadang mereka bertanya kepada beliau dan terkadang Rasulullah memulai pembicaraan dengan mereka. Dan di sebagian riwayat tentang hadits tadi, bahwa Rasulullah bersabda : ” Kalian akan melihat tuhan kalian dengan kasat mata”, maka sahabat heran dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “wahai Rasulullah apakah kita akan melihat Allah kelak di hari kiamat?, kita lihat apa jwaban nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak menjawab “iya”, beliau tidak menjawab : “betul”, namun beliau memberi jawaban dengan sesuatu yang betul-betul meyakinkan dan terjadi di hadapan mereka. Maka beliau bersabda: “apakah kalian tidak bisa melihat matahari dan bulan jika langit cerah?”, para sahabat berkata: “tidak wahai Rasulullah, bagaimana kita tidak dapat melihat bulan atau matahari jika langit sedang cerah”, maka Rasulullah berkata: “tidak ada keraguan dalam melihat Allah subhanahu wata’ala kelak di hari kiamat, keculi kalian ragu dalam melihat matahari atau bulan ketika langit sedang cerah”. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sungguh kalian akan meliahat Allah dengan sangat jelas dan dalam keadaan sadar”, dan dalam riwayat Abi Sa’id, dijelasakan di dalam kitab Imam Malik Al Muwattha’ beliau berkata: “ketika kami keluar bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam suatu malam dan bulan purnama sangat sempurna dan terlihat jelas, maka nabi Muhammad berkata kepada para sahabat yang disaat itu bersama beliau: ” Apakah kalian masih ragu melihat bulan purnama itu di malam hari ini?”, maka para sahabat berkata : “tidak wahai rasulullah”, Rasulullah berkata: “sungguh kalian akan melihat tuhan pencipta kalian seperti jelasnya kalian melihat bulan purnama ini”, bukan berarti Allah subhanahu wata’ala seperti bulan atau matahari, tetapi maksudnya adalah selama kalian yakin dengan melihat bulan atau matahari itu, maka sungguh engkau akan melihat Allah subhanahu wata’ala di hari kiamat. Sungguh orang-orang yang beriman akan menikmati memandang dzat Allah subhanahu wata’ala di surga dan itu merupakan nikmat yang paling luhur. Waktu hari Jum’at di dunia, disaat itu pula waktu melihat Allah subhanahu wata’ala dan keindahan-Nya, dan jika engkau ketika di dunia mendatangi shalat Jum’at di akhir shaf maka ia juga akan memandang Allah dibagian paling belakang, dan siapa yang mendatanginya di awal waktu maka ia akan berada di barisan pertama bersama para nabi dan para shalihin untuk melihat Allah kelak. Salah seorang Tabi’in, sayyidina Yahya bin Mu’adz Rahimahullah berkata: “Jika Allah menyingkapkan penghalang dari jiwa orang-orang mukmin, dan mereka melihat tuhan mereka, maka pandangan mereka akan hilang selama 800 tahun dan tidak bisa melihat yang lain karena keagungan cahaya Allah, dan setelah 800 tahun mereka akan kembali sadar, karena keindahan memandang dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

( القيامة : 22-23)
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” (QS Al Qiyamah: 22-23)
Semua kenikmatan surga tidak sebanding dengan nikmat memandang dzat Allah subhanahu wata’ala. Maka orang-orang yang beriman setelah berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala dan kembali ke istana mereka masing-masing, maka para istri mereka dari wanita-wanita mu’minat dan para bidadari surga berkata: “apa yang membuatmu sangat bercahaya?, semakin indah wajahmu”, maka mereka berkata: “hari ini Allah telah memuliakan kami dan mengangkat tabir penghalang sehingga kami melihat Allah subhanahu wata’ala”, inilah kenikmatan yang agung, kedudukan yang sangat mulia, balasan yang sangat luhur, anugerah yang sangat besar, dan keridhaan Allah yang paling agung, dan tiada kemurkaan lagi setelah itu, kenikmatan yang kekal dan abadi selama-lamanya. Ribuan tahun lewat seperti lewatnya 24 jam, berlalunya 1000 tahun seperti 2 menit, dan kelezatan makanan di surga akan terus terasa kenikmatannya sepanjang seribu tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim tentang hadits ini, bahwa kelezatan satu suap makanan di surga kenikmatannya akan tetap terasa hingga 1000 tahun. Karena waktu di surga berlalu begitu cepat dan kenikmatan disana kekal selamanya. Apakah yang menyebabkan semua ini? , hal yang kecil dan mudah, hanya 10 menit dalam sehari melaksanakan shalat fardhu 5 waktu, jika engkau shalat di masjid hal itu dibenarkan, shalat di padang pasir dibolehkan, shalat di rumah atau di sawah juga diperbolehkan karena bumi semua adalah masjid bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang terpenting adalah engkau melaksanakan shalat, jika engkau shalat berjamaah maka hal itu lebih utama dan lebih sempurna, jika engkau shalat sendiri pun diperbolehkan, dan jika engkau shalat dengan siwak maka itu lebih utama, dan siwak dengan kayu ara:k afdhal, dan siwak dengan ujung pakaian pun dibenarkan. Hal yang sangat kecil dan mudah dilakukan akan membawa kita kepada kenikmatan yang kekal. Dan kita berpuasa setahun sekali di bulan Ramadhan, kemudian bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, atau kita bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi ketika akan tidur agar sebanyak 20 kali, agar mendapatkan syafaat dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kita saling membantu dalam meneggakkan agama ini, saling mencintai karena Allah, menyebarkan ajaran Rasulullah diantara manusia, kita keluar untuk berdakwah di jalan Allah, ajarkan orang-orang non muslim tentang ajaran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaknya demikian hari-hari kita berlalu dari tahun ke tahun, dan kita gembira ingin kehidupan ini segera berlalu dengan cepat, rindu dengan kematian karena rindu ingin berjumpa dengan Allah, kita mengharapkan balasan yang agung di surga, kita ingin berjumpa dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan ini kesemuanya adalah tambahan pahala yang sangat luhur, kehidupan bagi kita merupakan tambahan kenikmatan dan kenikmatan, jadikan kehidupan ini di setiap harinya selalu bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika kita telah melaksanakan shalat fardhu maka kita bersyukur kepada Allah dengan ucapan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”, setelah membaca Al Qur’an kita bersykur dengan ucapan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”.
Jika kita hadir seperti majelis di malam hari ini dan kita keluar dengan gembira dan ucapkan “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”. Kehidupan dunia berlalu dan kita mengharap perjumapaan dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita jadikan kehidupan kita mengikuti kehidupan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kesemuanya adalah dakwah untuk agama, dakwah untuk ajaran-ajaran nabi yang penuh rahmah, kesemua itu adalah kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah hanya dengan makanan dan minuman saja, akan tetapi dengan wirid dan dzikir, di pagi hari dengan bacaan shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, di waktu dzhuhur membaca “Laa ilaaha illallah almalik alhaqq almubiin”, di waktu Asar membaca “Hasbunallaah wani’ma Al wakiil”, sesudah maghrib membaca “Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahu allahu akbar”, dan sesudah Isya membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallah Al ‘azhim” , dan ketika akan tidur membaca Subhanallah 33 x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 34 x , maka engkau akan merasakan kenikmatan dzikir dan engkau akan mencapai derajat dicintai Allah karena engkau banyak menyebut-Nya, dan hatimu akan dipenuhi dengan rahmah, engkau menginginkan semua manusia masuk kedalam agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menggembirakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam gembira maka Allah akan ridha dan syaitan akan sedih, karena syaitan menginginkan manusia bersamanya di neraka, sedangkan Rasulullah menginginkan mereka baik pria dan wanita untuk bersama beliau di surga. Rasulullah tidak menginginkan mereka berada di surga yang pertama akan tetapi beliau menginginkan semua ummatnya berada di surga Firdaus, surga yang paling tinggi. Agar kita bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita ikuti akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sifat-sifat beliau, keberanian beliau, kejujuran beliau, dan kita berdzikir kepada Allah sebagaimana Rasulullah berdzikir. Kita semua menginginkan keluhuran dan kebaikan maka ajaklah para kelurga, kerabat dan teman kita kepada keluhuran. Jika semakin banyak kejahatan, dan kita tidak saling membantu dalam menegakkan agama dan menyebarkan kemuliaan, maka Rasulullah akan bersedih dan Allalh akan murka, manusia akan celaka dan syaitan gembira. Jika syaitan melihat kebaikan itu sedikit maka ia akan gembira, karena dia menginginkan manusia bersamanya di neraka. Oleh karena itu kita menginginkan semua perbuatan kita membuat syaitan marah dan sedih namun membuat Rasulullah gembira. Jika engkau akan tidur dan kau teringat dan mengamalkan dzikir sebelum tidur maka Rasulullah akan gembira dan syaitan marah. Dan ketika kau bangun dari tidur bacalah doa bangun tidur maka Rasulullah akan gembira dan engkau akan dilimpahi pahala yang agung oleh Allah karena telah menggembirakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun ketika engkau bangun tidur dan tidak menyebut Allah dan tidak mengucapkan doa bangun tidur maka syaitan akan gembira, dan ketika engkau akan makan dan tidak mengucapkan “Bismillah” maka syaitan senang dan ia akan makan bersamamu, dan mengambil keberkahan makanan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat alam hakikat keseluruhannya, beliau melihat syaitan dan para malaikat, dan jika beliau melewati kubur beliau akan melihat ruh-ruh orang yang telah meninggal dan berbicara dengan mereka, beliau mendengar benda-benda, hewan dan tumbuhan yang berdzikir dan bertasbih kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka di suatu hari beliau duduk bersama para sahabat untuk makan, kemudian datang seseorang dengan bergegas dan ingin makan bersama mereka, ia tidak mengucap Bismillah dan langsung mengulurkan tangannya ke makanan itu, dan disaat itu para sahabat ada namun mereka tidak melihat sesuatu, namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan lelaki itu, maka lelaki itu berkata: “wahai Rasulullah, mengapa engkau menahan tanganku, lepaskanlah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “sungguh tangan syaitan telah mengulurkan tangannya bersama tangan saudaramu ini, untuk mengmabil keberkahan dari makanan kita”, dan aku memegang tangan syaitan yang terulur bersama tangannya”, kemudian beliau berkata kepada lelaki itu : “ucapkanlah bismillah”, maka ia pun berkata : “bismillah”, maka Rasulullah melepas tangannya dan berkata: “sekarang makanlah”. Oleh karena itu jika kita akan makan maka ucapkanlah bismillah atau bismillahirrahmanirrahim, tidak kita lupakan hal ini selama-lamanya. Jika engkau selalu lupa mengucap bismillah, maka syaitan akan menjadi semakin besar dan sangat gemuk, dan ia akan semakin kuat menggoda dan membisikimu untuk mencelakakanmu, namun jika engkau selalu mengucapkan bismillah maka syaitan akan semakin lemah dan semakin tidak berdaya mengecohmu, dan ketika selesai makan ucapkanlah Alhamdulillah 3 x, walaupun cuma sekali cukup, namun jika engakau mengulanginya sebanyak 3 kali maka Allah akan menambah kemuliaan untukmu. Semoga Allah subhanahu wata’ala menolong kita untuk selalu berada dalam sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya, amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Doa “Laa ilaaha illallah” yang kita baca tadi yang telah diajarkan oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh adalah untuk menjauhkan kita dari musibah, semoga Allah jauhkan kita dan kota Jakarta ini dari musibah, hujan yang turun tadi jika bukan karena banyaknya majelis dzkir dan majelis ta’lim, sungguh akan lebih dahsyat dari yang tadi, namun Allah subhanahu wata’ala hentikan tiba-tiba karena akan ada majelis ini. Hadirin hadirat, perbanyak doa ini untuk menjaga kita, wilayah kita dan seluruh wilayah muslimin dari musibah. Selanjutnya qasidah penutup “Muhammadun” secara ringkas, kemudian doa penutup oleh Al Habib Musa Al Kazhim bin Ja’far As Saggaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s